Ketika Jempol Bisa Bicara, THE ARTIST Lantang Dalam Kebisuan

Academy of Motion Picture Arts and Sciences 2012 kelar bagi-bagi Oscar kepada pelaku-pelaku film dunia. Ada yang mengejutkan dalam gelaran super mewah ini, menangnya film The Artist sebagai film terbaik. Mengejutkan karena ini film bisu pertama (sejak perang dunia I) yang berhasil mendapatkan penghargaan paling bergensi itu. Tidak hanya sebagai film terbaik, film ini menggondol 4 penghargaan yang lain: Sutradara terbaik, Aktor terbaik, Tata Busana terbaik, dan Musik terbaik. Presiden Perancis Nicolas Sarkozy pun ikut berbahagia.
Rentetan prestasi ini tentu saja membuatnya layak ditunggu-tunggu untuk ditonton. Film berpenampilan kuno yang di produksi dengan teknologi sekarang. Saya sendiri belum nonton film ini. Cuma baca sinopsis, nonton potongan filmnya di youtube, dan baca beberapa ulasan tentang The Artist ini. Sekedar upaya untuk memenuhi rasa penasaran. Maka curang kalau saya bicara banyak tentang film ini. Hanya saja, ada yang bisa dihikmahi dari kehadiran film ini.
The Artist hadir sebagai film bisu di era hingar-bingar ini. Bayangkan, di era efek suara dan efek khusus dalam film sudah sebegitu canggih, film ini memilih untuk menjadi film bisu, dengan tampilan yang jadul banget. Sederhana dan tidak meledak-ledak. Jauh berbeda dengan kecenderungan film-film Hollywood dewasa ini. Namun memunculkan sesuatu yang berbeda di jaman serba-latah ini, tentu saja membutuhkan keberanian tersendiri. Keberanian yang kemudian menyodok dan membuka isi kepala kita semua, betapa kreatifitas tetap menjadi yang utama. Latah dan bergerak sesuai trend memang aman, tapi tidak memiliki nilai apapun. Sekedar jadi bagian massa dan tanpa pengaruh.
The Artis juga memberi inspirasi kita semua bahwa film yang baik tidak harus berasal dari pusat perfilman. Ini film bikinan Perancis bukan Hollywood. Film yang baik tidak ditentukan oleh tempat kelahirannya.
Bagaimana Malang? Ditunggu!
Doni Kus Indarto
Pengasuh Movie Labs














